Monday, July 2, 2007
Friday, June 29, 2007
Homeopathy and Health

Homeopathy is not only an energy medicine, it is also holistic. Homeopaths convincingly argue that the body is much more than the sum of its various parts, and that the mind, the emotions and indeed the organs are somehow intricately interconnected. Consequently, the tratments they give more "rounded"then those found in traditional medicine. They are not just aimed at the symptom, but at the whole person.
Energy Within
The mechanics of this interconnection are elaborate and hard to explain, but is clear than the process really does work. The key point is that underlying the physical and mental system of the body is a refined system of energy which is self-regulating. It generally works extremely well. You sense it in action when you become ill. We usually get better even without taking a medicine. The body heals itself though it might need support when its own natural energy is low.
Treatment
The healing process is like running a car. Modern cars are so efficient that, provided you maintain them properly, give them the right fuel and drive them sensibly, problems seldom arise. Then one night you forget to turn off the lights and the next morning the battery is flat and your car incapacitated. The only way to get it moving again - the only cure - is to get transfer of energy, in the form of a jump start from another battery. Homeopathy is in many ways just like getting a energizing jump start.
Homeopathy is becoming increasingly popular because of the serious concerns about drugs-based orthodox medicine. Many drugs are toxic and the side-effects are not observable, the long-term consequences from the excessive use of drugs are not always fully appreciated. In fact modern medicine seldom cures, and it does not even pretend to. What it does do is alleviate and palliate the symptoms, and manage the illness, but since it addresses the symptoms and rarely the cause, the results are not entirely satisfactory.
Homeopathy is different because it is safe and it does not treat the removal of symptoms as an end in itself. Symptoms are considered as signs of distress or adjustment. The correct remedy removes the cause of the problem;the symptoms will then fade away. Homeopathy is highly rated because it takes into account the nature of the person. It knows that when two people have been diagnosed as having the same illness, they can actually become ill in quite different remedies to effect a satisfactory cure.
Defining Disease
We become ill when our energy is depleted or when we are out of harmony in fact the word "disease"could be more written "dis-ease", indicating that we are definitely not at ease, and for disease to be cured it is not necessary to give it a name. To cure homeopathically depends on a sensitive, accurate analysis of the symptoms. There is usually no need for a diagnosis, for it is widely said that there are no diseases, only what might be called people who are "dis-ease".
Symptoms
Except for any life-threatening situations, symptoms are not the primary problem. They reflect a picture which shows how the system is making adjustment to heal itself. For example, both diarrhoea and vomiting are the body's way of ridding itself of unwanted "material", and the intolerable itching of eczema does not specifically mean that you have a skin disease. Rather it means that there is an imbalance in your whole system, and that your body is pushing the problem to the safest possible place, well away from the essential organ. The skin becomes an organ of elimination.
Treating the Whole Person
Some people are very robust and seldom become ill, others are over-sensitive and become run-down and sick after a slight chill or an emotional upset. For some, the chest is the greatest weakness : winter cold quicklyturn to bronchitis. With others digestion is the problem : the slightest unusual change to their diet causes an immediate upset. Homeopathy acknowledge these many differences and adjust all treatments accordingly. The professional homeopath will always prescribe "constitutionally"to try to strengthen the weak areas, as well as the whole system.
Posted by
Dewina
at
7:24 AM
0
comments
Labels: Homeopathy
Monday, June 25, 2007
Ayurveda
Posted by
Dewina
at
8:09 AM
0
comments
Labels: Ayurveda
Crazy Jokes
No, I'm afraid of the dark.
Did you meet your son at the station?
Oh, no, I've known him for years.
Do these stairs take you to the second floor?
No, you'll have to walk
Before I take this job, tell me, are the hours long?
No, only sixty minutes
Please don't spit on the floor
Why not? Does it leak?
So, your birthday is June 10th. What year?
Every year!
That's a nice house you bought. But where is the door?
Are you planning to go somewhere?
I heard your wife had her face lifted.
Yes, but it didn't take. When the doctor gave her the bill, it fell again
Yes, she's expecting a new coat, a new car, and a new ring
I heard your wife ran away with your best friend?
Yes, and am going to miss him!
Love makes the world go round
So does a couple of martinis
I keep hearing the world idiot. I hope you're not referring to me?
Don't be so conceited, as if there were no other idiots in the world
I wish you would stop buying so many things on credit
But, dear, it only proves that I have confidence in you
How soon?
I saw Tim today and he didn't even greet me. He probably thinks I'm not his equal
Why that stupid, brainless, conceited moron. You are certainly his equal.
Posted by
Dewina
at
7:08 AM
0
comments
Labels: Jokes
From Einstein's Dreams - June 15, 1905
Di dunia ini, waktu adalah dimensi yang terlihat. Seperti halnya orang bisa menatap rumah-rumah, pohon-pohon, dan puncak gunung di kejauhan sebagai pertanda adanya dimensi ruang. Hal serupa terjadi ketika orang menatap ke arah yang berlawanan dan tampaklah kelahiran-kelahiran, pernikahan-pernikahan, kematian-kematian sebagai pertanda adanya dimensi waktu, merentang suram di masa depan yang jauh. Dan, seperti halnya orang bisa berpindah tempat, orang juga bisa memilih gerak pada poros waktu. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat, berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.
Di satu politeknik di Zurich, seorang lelaki muda duduk bersama pembimbingnya di ruang perpustakaan yang kecil, membahas disertasi doktoratnya. Saat ini bulan Desember, rak marmer putih di atas tungku perapian, dan bunga api memercik. Lelaki muda dan gurunya itu duduk di kursi kayu oak yang nyaman, dan di atas meja bundar penuh kertas-kertas hitungan. penelitian itu memang sulit. Tap bulan, dalam 18 bulan terakhir, lelaki muda itu selalu menjumpai profesornya di ruangan itu, meminta bimbingan dan dorongan, meneruskan pekerjaan dan datang lagi pada bulan berikutnya dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Sang profesor selalu menyediakan jawaban-jawaban. Dan hari ini, lagi, sang profesor memberi penjelasan. Ketika pembimbingnya berbicara, lelaki muda itu memandang ke luar jendela, mengamati salju yang menempel di pohon cemara di sebelah gedung, bertanya-tanya bagaimana ia bisa meraih gelarnya kelak.
Duduk di kursi, lelaki muda itu kemudian melangkah kemasa depan dengan ragu-ragu, dan dalam beberapa menit telah sampai ke masa depan, gemetar karena kedinginan dan ketidakpastian. Ia menarik diri kembali ke belakang. Lebih baik ia tetap bertahan di saat ini, di samping hangatnya api, disamping hangatnya bimbingan sang profesor. jauh lebih baik menghentikan gerak waktu. Dan begitulah, di perpustakaan kecil itu, si lelaki muda bertahan. Teman-temannya melintasinya, menatap sekilas padanya, dan meneruskan kembali perjalanan mereka ke masa depan dengan langkah masing-masing.
Di Jalan Viktoriastrasse no.27, di Berne, seorang gadis berbaring di ranjangnya. Suara orangtuanya terdengar sampai ke kamar. Ia menutup telinga dan menatap potret yang ada di atas meja, potret dirinya semasa bocah, berjongkok di pantai bersama ibu bapaknya. Di salah satu sisi dinding berdiri meja kayu chesnut. Baskom porselen di atas meja. Cat biru dinding mengelupas dan retak-retak. Di bawah ranjang, satu tas terbuka, terisi setengah dengan pakaian miliknya. Ia menatap potret di atas meja, lalu menghilang dalam waktu. Masa depan memanggilnya. Ia telah membuat keputusan. Belum selesai berkemas, bergegas is keluar rumah, dan titik dalam hidupnya inilah yang menerjang ke masa depan. Dengan cepat melintasi satu tahun di depan, lima tahun, sepuluh tahun, duapuluh tahun, dan akhirnya ia menginjak rem. Namun, ia bergerak demikian cepatnya hingga tidak mampu memperlambat langkahnya. Kini ia berumur limapuluh tahun. Peristiwa-peristiwa yang berpacu melewati pandangannya hampir-hampir tak bisa dilihatnya. Seorang pengacara botak menghamilinya, kemudian meninggalkannya. Gambar-gambar kabur dari masa kuliah. Apartemen kecil di Lausanne sebagai tempat tinggal sementara. Seorang temen perempuan di Fribourg. Kunjungan-kunjungan pada orangtuanya tampak kelabu. Kamr rumah sakit tempat ibunya meninggal. Apartemen lembab di Zurich, bau bawang putih, tempat ayahnya meninggal. Surat dari anaknya, yang tinggal di satu tempat di Inggris.
Perempuan itu menghela nafas. Ia berumur limapuluh tahun. Berbaring di ranjang, mencoba mengingat kehidupannya, menatap potret dirinya kala bocah saat berjongkok bersama ibu bapaknya di pantai.
Posted by
Dewina
at
6:24 AM
0
comments
Labels: Einstein's dreams
Jack dan Sulur Buncis - Politically Correct Version
Dahulu kala ada seorang anak lelaki bernama Jack yang tinggal di sebuah pertanian kecil. Ia hidup bersama ibunya, dan kehidupan mereka sangat terkucil dari siklus aktivitas ekonomi yang normal. Kenyataan yang kejam ini menyebabkan mereka tetap berada dalam kondisi miskin. Pada suatu hari, Jack disuruh ibunya membawa sapi peliharaan mereka ke kota dan menjualnya di sana dengan harga setinggi mungkin.
Jangan pikirkan berapa ribu liter susu yang selama ini telah mereka curi dari sapi itu! Lupakan saja sekian jam keasikan ditemani mahluk sapi mereka itu! Dan lupakan juga pupuk alam yang mereka ambil dari sapi itu untuk keperluan kebun mereka! Sapi itu kini bagi mereka hanya merupakan sebuah harta milik saja. Jack, yang tidak menyadari bahwa mahluk binatang memiliki hak-hak yang sama banyaknya dengan mahluk manusia-bahkan mungkin lebih banyak-mematuhi suruhan ibunya.
Dalam perjalanannya ke kota, Jack berjumpa dengan seorang tukang sihir vegetatir tua. Vegetatir tua itu memperingatkan Jack tentang bahaya memakan daging dan produk-produk olahan dari susu.
"Aku tidak berniat hendak memakan sapi ini," kata Jack. "Aku hendak membawanya ke kota lalu menjualnya di sana"
"Jika itu kau lakukan, kau hanya akan memperkokoh mitos kultural tentang daging sapi, dengan mengabaikan dampak negatif yang ditimbulkan industri peternakan sapi terhadap kelestarian ekologi, begitu pula masalah-masalah kesehatan dan sosial yang ditimbulkan oleh konsumsi daging. Tapi kau kelihatannya terlampau lugu, sehingga kurasa takkan mampu melihat adanya segala pertalian itu, Nak. Karena itu, begini sajalah, kutawarkan padamu suatu transaksi. Sapimu itu kutukar dengan tiga biji buncis ajaib ini, yang mengandung protein yang sama banyaknya dengan sapi itu, tapi sama sekali tidak mengandung lemak atau sodium."
Jack menerima transaksi itu dengan gembira, lalu pulang sambil membawa ketiga biji buncis itu. Ketika ia bercerita kepada ibunya tentang tukar menukar yang telah ia lakukan, emosi ibunya langsung bergejolak. Selama ini ia menganggap anaknya, dalam hal berpikir, hanya memiliki kemampuan pasif, sementara pemikiran praktis berada di luar jangkauan kerja otaknya. Tapi kini ia yakin bahwa Jack benar-benar minus dalam berpikir. Ibu Jack merebut ketiga biji buncis ajaib itu dari tangan Jack dan dengan sebal mencampakkan keluar jendela. Kemudia ia pergi dan untuk pertamakalinya ia menghadiri pertemuan kelompok bimbingan konsultasi yang diselenggarakan Ikatan Para Ibu Dunia Dongeng.
Keesokan paginya, Jack menjenguk ke luar jendela untuk melihat apakah matahari terbit lagi di sebelah timur (ia sudah mulai melihat adanya pola tertentu dalam proses gerakan benda langit itu). Tapi, di depan jendela, biji buncis yang kemarin dibuang ibunya ternyata telah tumbuh menjadi tanaman raksasa yang batangnya menjulang menembus awan. Karena tidak ada lagi sapi yang harus diperah susunya pada pagi hari, Jack memanjat pohon buncis itu, dan naik ke angkasa.
Setibanya di puncak, di atas bentangan awan, dilihatnya istana yang sangat besar. Bukan cuma sangat besar, tapi segala-galanya berukuran lebih daripada normal. Tampaknya seperti tempat tinggal seseorang yang kebetulan saja adalah raksasa. Jack memasuki istana itu dan mendengar bunyi musik merdu. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan sumber bunyi merdu itu : sebuah harpa yang memperdengarkan musik tanpa ada yang menyentuh dawai-dawainya. Disamping harpa otomatis itu ada seekor ayam betina yang sedang duduk di atas setumpuk telur emas.
Bayangan menjadi kaya dengan gampang, serta memiliki hiburan tanpa perlu berbuat apa-apa, sangat menarik bagi Jack yang berselera borjuis. Ia mengambil harpa dan ayam betina itu lalu berlari menuju pintu depan. Sementara berlari didengarnya bunyi langkah menggelegar dan suara membahana yang berkata :
"HUI, HUAI, HUU, HAM
"Aku sedang mengendus bau manusia"
"Aku ingin tahu tentang kebudayaan dan padangan hidupnya!"
"Dan membagi perspektif-perspektifku secara terbuka dan murah hati!"
Sayangnya, keserakahan telah begitu merasuki pikiran Jack, sehingga ia tidak mau menerima tawaran raksasa untuk melakukan kegiatan pertukaran budaya. "Itu cuma sisatnya saja," pikir Jack. "Lagi pula mau apa raksasa itu dengan barang-barang yang begini bagus dan halus? Ia pasti mencurinya dari tempat lain. Jadi, aku sepenuhnya berhak mengambilnya dari dia."
Upaya Jack membenarkan perbuatannya sendiri-suatu hal yang luar biasa bagi seseorang yang daya pikirnya gampang terkuras-menampakkan ketidakpedulian yang keterlaluan terhadap hak-hak pribadi raksasa. Tampaknya Jack benar-benar seorang sizeist yang beranggapan bahwa semua raksasaa dalah lugu, mengalami defisit di segi pengetahuan, dan dapat dieskploitasi.
Ketika raksasa melihat Jack membawa harpa ajaib serta ayam betina bertelur emas, ia bertanya, "Mengapa kau mengambil milikku?"
Jack tahu bahwa ia takkan mampu berlari lebih cepat daripada raksasa, jadi, ia harus cepat-cepat mencari akal. Ia buru-buru berkata, "Aku bukan mengambilnya, temanku. Aku cuma menempatkan mereka di bawah kepengurusanku agar dapat dikelola secara baik, dan dengan begitu mereka bisa mengembangkan kemampuan sampai ke tingkat optimal. Maafkan kata-kataku yang terus terang ini, tapi kalian, kaum raksasa, terlalu lugu sehingga tidak tahu bagaimana caranya mengelola sumber-sumber daya yang kalian miliki. Aku cuma ingin membantu, menangani kepentinganmu. Nanti kau pasti akan berterima kasih padaku."
Raksasa mendesah dan berkata, " Ya, kau memang benar. Kami, kaum raksasa, memang menggunakan sumber daya kami secara sembrono. Kami tadi bahkan tidak menyadari adanya tumbuhan buncis sebelum kami telanjur mencabut akar-akarnya dari tanah karena sibuk memetik buah-buahnya dengan bersemangat.
Jack langsung lemas. Ia berpaling dan memandang ke luar lewat pintu depan istana. Ternyata benar, raksasa telah memusnahkan tanaman buncisnya. Jack ketakutan dan berteriak, "Kini aku terpaksa berada di sini untuk selama-lamanya, di atas awan bersamamu!"
"Jangan cemas, temanku," kata raksasa. "Kami di atas sini semuanya vegetatir, dan selalu banyak buncis yang tersedia untuk dimakan. Selain itu, kau takkan sendiri. Masih ada tiga belas manusia seukuranmu yang telah memanjat batang tumbuhan buncis untuk mengunjungi kami dan menetap di sini."
Jack terpaksa menerima nasib menjadi anggota komunitas raksasa di atas awan. Ia tidak terlalu merasa kehilangan ibunya atau pertanian mereka, karena di atas jauh lebih sedikit pekerjaan yang harus dilakukan, sedang bahan makanan lebih dari cukup. Dan lambat laun ia menjadi terbiasa untuk tidak lagi menilai orang berdasarkan ukuran tubuh, kecuali bila menghadapi orang yang lebih pendek daripada dirinya.
Posted by
Dewina
at
3:35 AM
0
comments
Labels: Politically Correct
Politically Correct Bedtime Stories
Pada zaman dulu, pria-pria setengah baya berperut gendut berkumpul di klub-klub elite mereka, duduk di sofa empuk sambil mengisap cerutu, dan saling melempar ide serta plot dongeng. Masalahnya, dongeng-dongeng itu, yang sebagian besar merasuki kesadaran sosial umum, merupakan refleksi cara hidup para pria itu dan cara mereka memandang dunia. Dengan kata lain, cerita-cerita itu seksis, penuh diskriminasi, tidak fair, secara kultural menyimpang, dan pada umumnya merendahkan martabat para tukang sihir, binatang, jembalang, dan peri.
Akhirnya setelah berabad-abad, dongeng-dongeng penuh penghinaan ini beredar-tanpa sadar diturunkan dari satu generasi pro pria ke generasi pro pria berikutnya. Seorang James Finn Gardner (ya betul, yang ini juga pria) memutuskan untuk memberi makna baru serta membebaskan dongeng-dongeng klasik ini dari pakem aslinya, dan menceritakannya kembali dengan cara yang lebih sesuai dengan keadaan soaial saat ini.
Pangeran katak
Dahulu kala, ada seorang putri muda yang, apabila sudah bosan maka ia membentur-benturkan kepalanya dalam upaya menghancurkan struktur kekuasaan lelaki di istananya, mempunyai kebiasaan berjalan-jalan masuk hutan lalu duduk di pinggir telaga kecil untuk bersantai. Di tempat ini ia menghibur dirinya dengan melambung-lambungkan bola kencana favoritnya sambil merenungkan peranan pejuang lingkungan hidup wanita di zamannya.
Pada suatu hari, ketika ia sedang membayangkan betapa indah keratuannya andaikan kaum perEmpuan memegang tampuk kekuasaan, bola kencana yang dilambungkannya jatuh dan berguling-guling masuk ke dalam telaga. Telaga itu sangat dalam dan gelap, sehingga sang Putri tidak bisa melihat bola itu. Ia tidak menangis-tentu saja tidak!-tapi dalam batin ia bertekad lain kali akan lebih berhati-hati.
Tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata,"Aku bisa mengambilkan bolamu, Putri"
Putri menoleh dan melihat kepala seekor katak tersembul di permukaan air telaga. "Tidak, jangan," kata sang Putri. "Aku tidak tega memperbudak mahluk spesies lain demi kepentingan diriku sendiri".
Katak berkata,"Bagaimana jika kita mengadakan kesepakatan? Akan kuambilkan bola itu untukmu, sebagai imbalannya kau harus menolongku."
Dengan senang hati sang Putri menyetujui pengaturan yang sangat pantas itu. Katak menyelam dan dengan segera sudah muncul lagi di permukaan dengan bola kencana di mulutnya. Dilontarkannya bola itu ke pinggir telaga dan ia pun berkata, "Sekarang, setelah aku menolongmu, aku ingin mengetahui pandanganmu tentang daya tarik jasmaniah antar spesies."
Putri sama sekali tidak tahu apa sebenarnya maksud katak itu. katak melanjutkan, "Soalnya begini, aku ini sebenarnya bukan katak. Aku sebenarnya lelaki, tapi aku disihir oleh seorang penyihir jahat. Meski wujudku yang katak ini tidak lebih baik atau buruk-hanya berbeda-daripada wujudku sebagai manusia, aku sangat ingin bisa kembali berada diantara sesama manusia. Dan satu-satunya yang dapat melenyapkan sihir yang mengubah wujudku adalah kecupan seorang putri."
Selama sesaat sang Putri membayangkan kemungkinan terjadinya pelecehan seksual antara dua species yang berbeda. Tapi ia merasa kasihan terhadap nasib katak itu. Karena itu ia lantas membungkuk dan mengecup kening si katak. Seketika mahluk amfibi itu menjadi bertambah besar dan tiba-tiba berubah. Di tempat katak tadi, kini tampak seorang lelaki yang mengenakan baju kaus olahraga golf dan celana panjang berpola kotak-kotak berwarna menyala. Lelaki itu berusia setengah umur, ukuran tubuhnya di bawah rata-rata, dan rambutnya sudah agak menipis diubun-ubunnya.
Putri tercengang,""Maaf, jika kata-kataku kedengarannya agak berbau classist," katanya agak gugup. "Tapi...maksudku...bukankah penyihir biasanya menyihir pangeran?"
"Biasanya memang begitu," kata lelaki itu, "tapi sekali ini yang dijadikan sasaran cuma seorang pengusaha biasa. Aku ini developer real estate. Penyihir yang mengubah wujudku mengira aku menipunya dalam suatu pertikaian tentang garis-garis batas tanah. Karenanya aku lantas diundangnya main golf, dan ketika aku baru saja hendak mengayunkan tongkat untuk melakukan pukulan pertama, ia mengubah wujudku. Tapi aku tidak menyia-nyiakan waktuku selama berwujud katak. Aku sudah mengenal baik setiap jengkal tanah di hutan ini, dan menurut pendapatku lahan di sini sangat cocok untuk dijakdikan kompleks gedung perkantoran/kondominium/resor. Lokasinya benar-benar bagus. Bank takkan mau meminjamkan dana pada katak, tapi kini, setelah aku kembali berwujud manusia, mereka pasti akan menurut saja apa kataku. Wah, pasti benar-benar asik nanti! Ini akan menjadi proyek besar, besar sekali! Tinggal mengeringkan telaga ini, tebang sekitar delapan puluh persen pepohonan, minta keringanan pajak untuk...."
Developer mantan matak itu tidak bisa meneruskan ocehannya karena sang Putri menjejalkan kembali bola kencananya ke mulut lelaki itu. Kemudian orang itu dibenamkannya ke dalam air dan ditekannya terus sampai akhirnya lelaki itu tidak meronta-ronta lagi. Sambil berjalan kembali ke istana, sang Putri merasa kagum tentang betapa banyak perbuatan baik yang dapat dilakukan seseorang selama satu pagi saja. Dan meskipun mungkin ada yang menyadari bahwa katak di telaga itu sudah tak ada lagi, tapi mungkin tidak ada yang menyadari hilangnya seorang developer real estate.
Posted by
Dewina
at
2:36 AM
0
comments
Labels: Politically Correct



.jpg)
.jpg)

